Tips Lomba Debat Bahasa Indonesia
September 13, 2008 at 7:42 am 1 komentar
1. Gunakan Bahasa Indonesia Baku dan sesuai dengan EYD
Kita harus menggunakan cara ini karena sudah ketentuan dalam lomba. Kita (khususnya orang jawa) harus lebih behati-hati dalam mengucapkan argumentasi kita. Jangan gunakan bahasa jawa pada saat menyampaikan argument kita walaupun itu keceplosan karena akan mengurangi nilai dalam penilaian. Dan jangan gunakan bahasa Indonesia masa kini, misal kamu diganti dengan lo, tetap menjadi
tetep, dll.
2. Gunakan paragraf Argumentasi
Paragraf argumentasi adalah paragraph yang digunakan untuk mempertahankan pendapat kita mengenai tema yang diperdebatkan. Semakin kuat argument kita semakin sulit pula lawan kita untuk melawan/ memberi kalimat sanggahan terhadap argument. Argument yang kita gunakan harus sesuai dan masih berkaitan dengan tema debat.
3. jangan gunakan kalimat pengandaian
Hindari penggunaan kata andaikan, jika, bila, andaikata, seandainya, dll. Kata-kata seperti itu akan melemahkan argumentasi kita sehingga akan mengurangi nilai.
4. Pandangan mata tertuju pada dewan juri
pada saat menyampaikan argumentasi usahakan pandangan mata tertuju pada dewan juri karena kita harus meyakinkan argumen kita kepada dewan juri, dengan cara seperti ini dewan juri akan lebih menghargai argument kita daripada tidak sama sekali.
5. jangan terlalu banyak interupsi
Interupsi adalah menyela / memotong pembicaraan lawan pada saat menyampaikan argumentasi. Lawan bisa menerima atau menolak interupsi yang kita ajukan. Interupsi cukup diajukan ketika lawan melakukan kesalahan berpendapat dalam menyampaikan argument. 6. Body language
Bahasa tubuh bisa menambah keyakinan dewan juri terhadap argument yang kita sampaikan daripada kita terdiam kaku saat menyampaikan argument.
7. Penonton / pendukung ( supporter )
Semisal dalam aturan lomba debat pendamping ( guru, teman peserta ) diperbolehkan masuk dalam ruangan debat, penonton juga dapat menjadi pembongkar kesalahan lawan. Misal lawan secara tidak sengaja mengatakan udah yang seharusnya sudah, penonton seolah-olah saling berbicara mengenai kesalahan lawan tersebut., agar dewan juri mengetahuinya. Tetapi pada saat berbicara jangan terlalu keras karena akan mengganggu proses debat.
Cara seperti ini pernah saya gunakan pada saat teman saya menjadi peserta debat dan saya menjadi teman pendamping. Pada saat lomba pertama kami tidak boleh masuk dalam ruangan debat. Tetapi saat lomba sampai larut malam akhirnya kami boleh masuk dalam ruangan debat. Saat itu lawan teman kami mengatakan “tetep” yang seharusnya tetap dan “tangga” yang seharusnya tetangga. Kami secara spontan membicarakan kesalahan tersebut. Karena kami menggunakan cara ini terus sampai lomba debat berakhir, kami disebut juri bayangan oleh dewan juri. Saat itu lomba berlangsung sampai 00.30 dini hari yang alhamdulillah mendapat juara no. 1.
Entry filed under: Tips. Tags: .
1 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed




1. savira | Maret 20, 2009 pukul 5:25 am
Assalamualaikum,
makassih yahh……. buat tips nya, sangat membantu buat lomba debat aku,
thank you so much !